motogp 2018, siapa pembalap Ducati tahun depan?

0
1107
views

Sliders!! musim motogp 2018 memang baru akan memasuki seri ke-4, namun pergerakan beberapa pembalap di beberapa tim sudah ramai di perbincangkan. Diantara tim pabrikan baru Yamaha yang sudah mengunci formasi kedua pembalapnya saat ini hingga tahun 2020. Repsol Honda baru mengamankan mang Marquez dan Suzuki baru Alex Rins yang disodori contract renewal, menyisakan pertanyaan tentang nasib Andrea Iannone, KTM baru mengkonfirmasi perpanjangan Pol Espargaro sampai dengan 2020. Sedangkan Ducati baru mulai membahas perpanjangan kontrak terhadap Dovizioso, tapi kubu mang Lorenzo masih belum mau banyak berkomentar masalah ini.

Meskipun tim yang berbasis di Bologna ini berulangkali menyuarakan keinginannya untuk mempertahankan formasi Dovizioso dan Lorenzo di musim depan, tapi melihat perjalanan mas Lorenzo di musim motogp 2018 sampai dengan seri terakhir COTA rasanya masih bisa di spekulasikan. Yaa ..bisa di bilang pernyataan Ducati di atas sekedar bahasa diplomasi untuk menjaga kondusifitas tim. Sampai dengan tiga seri awal posisi mas Dovi sebagai team leader di kubu Ducati semakin terkukuhkan, dan Lorenzo yang notabene datang ke tim dengan status juara dunia semakin diuji untuk menunjukkan hasil yang merepresentasikan kemampuannya (dan gaji nya tentunya, hihihi).

Rule of thumb nya, jika Ducati tetap mempertahankan formasi pembalap mereka di musim motogp 2018 saat ini..maka beberapa alternatif skenario menurut analisa abal-abal versi saya adalah :

  • Mas Dovi bertahan, dan akan mendapatkan kenaikan gaji. Jelas bargaining nya adalah pencapaian doi di musim 2017 lalu yang mampu menempatkan Ducati factory sbg title contender, bersaing dengan mang Marquez. Bertolak belakang dengan Jorge Lorenzo yang terseok-seok menjalani akhir pekannya di setiap seri. Sepertinya Ducati akan meloloskan keinginan Dovizioso tersebut, mengingat proposal awal yg disodorkan tim sementara ini ditolak oleh Dovi yang masih menginginkan kenaikan upah minimum, hehe..
  • Lorenzo akan mendapatkan pemotongan gaji. Yaa..kalau Dovi lolos mendapat kenaikan gaji tentu ada kompensasinya ke pihak sebelah, mengingat Ducati juga memiliki batasan alokasi budget total yang bisa dikeluarkan untuk memperkerjakan kedua pembalap di tim. Mengenai hal ini mas Lorenzo sebenarnya sudah maklum, tapi seberapa besar pay cut yang bisa dia terima tentunya itu menentukan jalannya arah negosiasi.

motogp 2018Angry Lorenzo at Argentina 2017

Somehow, kesulitan yang dialami Lorenzo bukanlah yang pertama kalinya terjadi pada non Ducati rider yang bergabung di tim ini. Crutchlow, Hayden, dan Rossi adalah contoh ‘korban’ yang tidak sanggup beradaptasi dengan mulus bersama Desmosedici :D. Dengan fakta ini, kalaupun Lorenzo tidak lagi bersama Ducati di musim 2019 sepertinya kandidat penggantinya bukan lagi pembalap juara sekelas Lorenzo. Imej Ducati sebagai motor yang sulit untuk ditaklukkan hanya dalam waktu dua tahun akan menjadi pertimbangan tersendiri bagi para riders cabutan dari non-Ducati

Sepertinya, skenario alternatif pendamping Dovizioso kira-kira seperti ini sob :

  • Jack Miller. Meskipun baru tahun ini mengendarai Ducati dan merupakan ex Honda Rider, pencapaiannya di seri Argentina saat balapan berlangsung dalam kondisi cuaca yang berubah-ubah menunjukkan bahwa Miller memiliki potensi di atas Desmosedici meskipun masih harus terus memperbanyak pengalamannya dengan Ducati. Kita lihat saja perkembangan Miller di beberapa seri kedepan
  • Danilo Petrucci. Selain sudah sangat berpengalaman dengan Desmosedici spek pabrikan, performanya di tim satelit Ducati juga beberapa kali mencuri perhatian. Petrucci sendiri memiliki ambisi untuk bisa bergabung di tim pabrikan, jadi kenapa engga? Bisa dibayar agak murah lagi dibandingkan meneruskan kontrak Lorenzo.
  • Andrea Iannone. Mungkin kedengerannya ga mungkin, tapi kenapa engga? Terlepas reputasi Iannone selama ini, setidaknya di musim motogp 2018 ini sampai seri ketiga he had not crashed (yet?) 😀 dan mampu menyamai pencapaian podium rekan setimnya dengan meraih P3 di seri COTA lalu, podium kedua berturut-turut bagi Suzuki sejauh ini. Yaa..meskipun Iannone juga memiliki kontribusi terbesar atas melempemnya Suzuki di tahun lalu akibat kesalahannya dalam memilih spesifikasi mesin saat musim uji coba.

Tapi hey, mas Iannone sepanjang di atas Desmosedici track record nya selalu kompetitif (dan agresif). Pernah mengalahkan Crutchlow yg saat itu status nya rider Ducati factory disaat ia masih berada di tim satelit Pramac Ducati. Performa Iannone sampai seri ketiga ini mulai menunjukkan kematangannya dengan P9 di Qatar, P8 di Argentina dan terakhir P3 di COTA, grafik performa nya selalu naik dan selalu di zona poin.

Di klasemen sementara pembalap ia menempati posisi P6 dengan 31 point, sedangkan rekan setimnya di P12 dengan 16 point. Sepertinya Iannone tidak berbakat dalam urusan memberikan inputan teknis kepada tim dalam proses bike development, ia hanya bisa kencang di atas motor yang balanced. Somehow, terbukti di musim 2018 ini pengembangan GSX-RR yang melibatkan kontribusi Alex Rins memberikan hasil lebih positif. Jadi, kombinasi Dovi – Iannone bisa jadi merupakan kombinasi antara team leader dan pure quick rider :D.

Kalau saya pribadi berharap Lorenzo ke Suzuki yang sepertinya akan lebih mudah bagi adaptasi riding style nya, dan Iannone CLBK dengan Ducati. Dengan demikian kompetisi akan semakin menarik karena setiap riders yang memiliki talenta tidak lagi berkutat dengan masalah adaptasi dan mencari settingan yang pas. Dengan demikian semua memiliki kesempatan untuk bisa bertarung dengan kondisi sama-sama nyaman di atas motor. Seru kan?? 😀

We’ll see..

Related:

  • No Related Posts

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here