CBR 250:Tiga Generasi, Dua Konsep

3
1257
views

CBR 250Honda CBR 250R 1st Gen (sumber)

25 Februari 2011 silam Astra Honda untuk pertama kalinya mencoba menggoda konsumen tanah air dengan memperkenalkan CBR 250. Dalam peluncurannya di Hotel Mandarin Jakarta, AHM melibatkan trio Repsol Honda saat itu: Casey Stoner, Dani Pedrosa dan Andrea Dovizioso. Keesokannya sesi test-ride dengan media dilakukan di sirkuit Sentul Bogor. AHM tidak memproduksi sendiri CBR 250, melainkan  didatangkan melalui jalur impor secara utuh (completely bulid up) dari Honda Thailand

Meski dipasarkan ke Eropa dan Amerika, produk ini sejatinya di kembangkan untuk menyasar market India dan Thailand. Garis desainnya terinspirasi dari produk global Honda lainnya, yakni Honda VFR. Entah apakah selera konsumen di India dan Thailand memang paling pas dengan Honda VFR sehingga dipilih sebagai referensi desain CBR 250, bukannya dari sesama klan Honda CBR jua. Wallahu alam ..

CBR 250Honda VFR 1200 (kiri) dan Honda CBR 250 (kanan)

Saat diperkenalkan di Indonesia, CBR 250 membawa beberapa kelebihan kasat mata dibanding Kawasaki Ninja yang sudah lebih dulu ditasbihkan sebagai pembuka jalan market 250 cc. Jika Ninja 250 saat itu masih mengandalkan karburator, CBR 250 sudah lebih canggih dengan menerapkan sistem pengkabutan injeksi.

Kedua, Ninja 250 masih mengandalkan nuansa analog pada speedometer nya. Lain halnya dengan CBR 250 yang sudah menghadirkan kombinasi analog (RPM meter) dan digital (speedometer, fuelmeter, odometer). Jelas nuansa yang diberikan kepada pengendara selama riding akan berbeda

CBR 250

Panel Ninja 250 (kiri) dan CBR 250 (kanan)

Sedangkan secara tidak kasat mata, dalam pengertian penilaian subjektif tergantung preferences konsumen, CBR 250 perlu dipertimbangkan mengingat:

  • Jika konsumen mencari daily bike dan rute yang dilaluinya banyak stop n go, maka CBR 250 memiliki predikat pilihan yang lebih masuk akal ketimbang Ninja 250. Alasannya ergonomi riding position yang lebih bersahabat. Konfigurasi mesin satu silinder membuat output power yang dihasilkan tidak mubadzir. Bobot motor juga lebih ringan dibandingkan Ninja 250 twin cylinderYang jelas untuk rute padat, mesin satu silinder akan memberikan efisiensi konsumsi bahan bakar yang lebih baik

  • Bagi konsumen yang sering berboncengan dan tidak ingin nempel-nempelan dengan ridernya, maka CBR 250 memfasilitasinya dengan hadirnya behel belakang atau rear hand grip bagi pembonceng. Meskipun berboncengan yang benar adalah dengan memeluk rider didepan pembonceng, hehe. Selain itu rear grip yang terlihat sepele ini akan terasa manfaatnya ketika harus menggeser-geser motor di parkiran yang sempit. 

CBR 250 generasi pertama cocok dengan konsumen yang sudah lebih mature, yang tidak mudah terpukau oleh desain dengan penampilan agresif. Jika diumpamakan, CBR 250 gen pertama ini seperti mobil volvo. Sudah terbayang lah ya bagaimana positioning CBR 250 kala itu, "a premium elegant bike".

CBR 250

Desain CBR 250 Masih Relevan Hingga Saat ini (kiri), Sedangkan Ninja 250 Sudah Outdated (kanan)

Premium karena dengan harga Rp 39.9 juta hanya berselisih sedikit dengan Ninja 250 karburator yang waktu itu bisa ditebus dengan Rp 44.9 juta. Dan jangan lupa, dengan selisih yang tidak seberapa tersebut Ninja 250 menawarkan suara lebih merdu dari mesin dua silindernya. Dikatakan elegant karena desainnya yang mungkin sopan dan parlente. Lebih terkesan santun, sangat santun malahan untuk sebuah sportbike. Tapi desain model seperti ini biasanya lebih 'aman'.. persis seperti volvo lah.

Sayang keunggulan di atas seakan menguap ketika pada 1 Agustus 2012 lalu Kawasaki meluncurkan Ninja Fuel Injection seharga Rp 49.9 Juta dengan banyak penyegaran disana-sini. Kawasaki mengganti konsep garis smooth dengan desain model lebih tajam. Dilengkapi speedometer digital kombinasi odometer analog dan knalpot baru membuat Ninja 250 two cylinder semakin mempesona. Sedangkan di saat yang sama, CBR 250 saat itu dibanderol senilai Rp 40.5 juta.

CBR 250Jika Anda Berada Pada Periode 2012 – 2014, Mana Pilihan Anda?

Generasi Kedua

Diperkenalkan di Indonesia pada Mei 2014, dengan garis desain yang tidak lagi menasabkan diri pada VFR series. Referensi desain kali ini terinspirasi CBR series, yang memiliki desain dual keen eyes. Kesan elegan dan kalem tidak lagi tersirat dari desain kali ini. Beda total! 

Desain generasi kedua CBR 250 banyak dipengaruhi oleh saudara tuanya CBR 1000RR. Mulai dari tarikan garis bentuk lampu depan hingga garis fairing depan samping kanan-kiri semuanya sama persis. Heran, kenapa tidak dari awal saja Honda menasabkan desain CBR 250 pada CBR 1000RR? Setidaknya bisa mengurangi kritikan pada CBR generasi pertama. 

CBR 250

Garis Keturunan CBR Series : CBR 1000RR (kiri), CBR 250 (kanan)

Sayang di generasi kedua ini Honda masih saja mempertahankan konfigurasi single cylinder. Padahal sebelumnya, pada CBR generasi pertama area ini mendapat kritikan cukup pedas. Meskipun generasi kedua diklaim mendapatkan peningkatan power sebesar 1kW (1kW = 1.36PS) menjadi 29 PS/9.000 RPM,  satu silindernya seakan membuat konsumen ilfil untuk menebus motor yang dibanderol senilai Rp 46.8 Juta saat diluncurkan. Di periode yang sama, Ninja 250 FI dibanderol Rp 53.6 Juta sedangkan Ninja RR Mono sebagai lawan sepadan CBR 250 karena sesama 250 cc satu silinder 'hanya' dijual seharga Rp 42 Juta.

Kesimpulannya jelas, CBR 250 generasi kedua adalah motor 250 cc serba tanggung jilid dua dari Honda. Konsumen meminta two cylinder, malah dikasih two bulb, haha. Dengan harga seperti di atas, perhatian konsumen bisa teralihkan oleh Ninja RR Mono yang memposisikan harga di bawah CBR 250 dual keen eyes. Apalagi desain RR Mono jauh lebih agresif dan sporty. Itu saja RR Mono tidak mampu mencatatkan penjualan yang gemilang. Bagi konsumen harga baru satu silinder 250 cc terlalu overprice! Lain hal jika berbicara harga bekasnya ya.. hehe. 

Pilihan bijak memiliki motor 250 cc satu silinder adalah cari barang bekas berkualitas, selama harga barunya masih belum mau di bawah angka Rp 40 Juta.

Generasi Ketiga

Pada gelaran Tokyo Motorshow 2015 lalu, Honda global memajang model purwarupa berkelir serba hitam yang diyakini sebagai sosok All New Honda CBR 250RR. All New karena benar-benar rombakan total, mulai dari desain kalem yang dibuang jauh-jauh hingga spesifikasi teknis terutama mesin yang akan menggunakan konfigurasi dua silinder. Butuh pembelajaran sampai dua generasi hingga Honda benar-benar mengesampingkan ego perspektifnya dalam memandang market 250 cc. Wow!

CBR 250Konsep CBR 250 RR (sumber)

Sebenarnya secara global satu persatu model CBR series mengalami pembaharuan garis desain menjadi lebih agresif dan tajam. Tidak nampak lagi gurat-gurat smooth lines dengan konsep elegan. Ambil contoh 16 Oktober 2015 pada event AIMExpo di Florida US, Honda resmi memperkenalkan CBR 500RR dengan model lampu depan dual LED menyipit dan windshield meruncing.

CBR 250CBR 500RR 2013 (kiri) dan CBR 500RR 2016 (kanan)

Tidak lama kemudian masih pada bulan dan tahun yang sama, pada event Tokyo Motor Show Honda kembali menyegarkan CBR series yang lain dengan konsep desain yang sama. Kali ini giliran CBR 400R!

CBR 250CBR 400R 2013 (kiri) dan CBR 400R 2016 (kanan)

Dan Februari 2016 lalu, tidak ketinggalan AHM meluncurkan All New Honda CBR 150R dengan melibatkan duo Repsol Honda Marc Marquez dan Dani Pedrosa. Seakan hendak menyeragamkan garis desain CBR series, CBR 150R pun mengalami major change dari versi sebelumnya (K45G) dengan konsep desain yang sama dengan CBR 500RR dan CBR 400R. Padahal belum genap dua tahun facelift dari single headlamp menjadi dual keen eyes.

CBR 250

CBR 150R 2014 (kiri) dan CBR 150R 2016 (kanan)

Kembali ke CBR 250, saya pribadi bingung kenapa dahulu Honda ngotot membenamkan mesin satu silinder dalam klan CBR seperempat liternya ini selama dua generasi berturut-turut. Diperparah dengan garis desain yang kelewat elegan pada generasi pertama. Padahal CBR memiliki identitas sport fairing tulen dengan spek teknis sangar.

Produk flagship Honda yang disebut-sebut banyak mengadopsi teknologi motoGP adalah Honda CBR 1000RR FireBlade. Jelas kan bagaimana klan CBR diposisikan? Mirip seperti YZF-R1 oleh Yamaha diposisikan sebagai motor mass product yang memiliki DNA dari YZR-M1 motoGP. Sama halnya GSX-R yang oleh Suzuki dipromosikan mengadopsi teknologi  GSX-RR motoGP.

Lebih bijak jika 2011 lalu Honda tidak menamai produk gen pertamanya sebagai anggota dari klan CBR. Terlalu jauh memaksakan, dan membuat CBR kehilangan konsep. Karena waktu itu desainnya mengadopsi VFR, kenapa tidak sekalian saja dinamai VFR 250? Terlebih karakternya yang lebih cenderung pada sport touring ketimbang sport tulen, hehe.. 

Akhirnya setelah tiga generasi, All New CBR 250RR menurut saya akan mampu berbuat banyak dalam memikat konsumen tanah air. Jika Ninja 250 versi standar saat ini dilepas dengan harga Rp 58.4 Juta, asumsi wajar perkiraan harga All New CBR 250 RR adalah lebih mahal Rp 5-6 Juta. Ini berdasarkan historical selisih harga pada generasi-generasi sebelumnya. Jika AHM berniat memasarkan dengan selisih harga jauh di atas Rp 5-6 Juta, sepertinya agak tricky untuk di bayangkan saat ini.

Semoga bermanfaat, 

Ciao! 

Related:

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here