Delapan Tahun Kawasaki Ninja 250

1
532
views

Geliat kelas 250cc

(sumber)

Hari itu, Sabtu 31 Mei 2008 bertempat di Parkir Timur Senayan Jakarta Pusat. PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) meluncurkan tiga model terbarunya sekaligus. ‘ayam jago’ atletis athlete 125, dan dua model sisanya adalah produk premium trail KLX 250 dan model sport Kawasaki Ninja 250. Kedua model terakhir saat itu dijual dengan harga Rp 54.9 juta dan Rp 44.9 juta OTR Jakarta. Delapan tahun sudah ..

Padahal, saat itu kebanyakan pengguna roda dua sedang menggemari skuter matic. Bahkan popularitas motor bebek mulai sirna. Pria, wanita, tua, muda, pelajar, karyawan, ibu rumah tangga, mahasiswa/i bahkan pembalap, semua senang matic. Entah untuk belanja, pergi ke kampus, ngantor, mudik, bahkan balapan untuk membuktikan matic mana paling kencang.

Sekitar tahun 2003an trend ini mulai melanda, ditandai dengan populernya Yamaha Mio yang imut itu. Sampai sekarang khalayak ramai tetap menggemari skuter matic. Padahal sebelumnya Kymco dengan Jetmatic nya tidak berhasil memasarkan skuter jenis ini.

balapan matic

Pembalap masakini, menggunakan Yamaha Mio (sumber)

Yamaha dan Honda adalah dua pabrikan Jepang penguasa market share penjualan sepeda motor di Indonesia. Jika jumlah penjualan keduanya digabungkan, maka hasilnya fantastis! Tahun 2008 jumlah penguasaan market keduanya adalah 86%, dan di akhir 2015 keduanya menguasai market sebesar 94.6%.

  • Tahun 2008 Honda menguasai 46.2%, sedangkan Yamaha 39.6%.
  • Sedangkan di tahun 2015 Honda menguasai 68.7% market share, meninggalkan Yamaha di 27.7%. 

Lalu apa yang tersisa bagi kompetitor keduanya? niche market! Michael Porter menjelaskan Generic Strategies kedalam tiga pendekatan :

  1. Cost Leadership untuk mass market
  2. Differentiation untuk mass market
  3. dan, Focus untuk specific market

Strategi Kawasaki Yamaha HondaGeneric Strategy, Michael E Porter (sumber)

Manuver dasar bagi Yamaha dan Honda adalah Cost Leadership dan Differentiation. Kenapa cost leadership? karena keduanya memiliki basis penjualan dengan volume terbesar maka perlu efisiensi untuk memperoleh margin lebih, sekaligus agar mampu menawarkan diskon demi mengejar volume sales. 

Lalu kenapa harus differentiation juga? lihat saja produk keduanya, serba head to head, artinya antara Honda dan Yamaha terjalin chemistry persaingan di setiap lini produk. Fans dan konsumer keduanya memiliki profil yang sama, perilaku yang serupa, karakter yang tidak jauh berbeda. Produk apa yang tidak ada di Honda tapi ada di Yamaha? nyaris tidak ada, begitu juga sebaliknya. Karena itu baik Yamaha dan Honda keduanya giat saling mendiferensiasi, tapi lucunya cara yang dilakukan keduanya hampir sama. Tidak heran militansi fans keduanya pun level otot.. hehe

Itulah mass market, it’s a crowd. Segmen market yang digeluti Honda dan Yamaha akan selalu menarik di mata investor, karena volume!

The niche game

Suzuki di tahun 2008 masih sempat memiliki market share sebesar 12.8%, sedangkan Kawasaki hanya 0.7%. Akhir tahun 2015 penjualan Suzuki seperti yang sudah diketahui bersama, drop hingga 1.7% sedangkan Kawasaki justru bisa meraup 1.8%. Permasalahan internal Suzuki yang berlarut-larut membawanya pada langkah kemunduran. Konsumen dibuat bingung, sebenarnya produk Suzuki itu apa?Bertahun-tahun mengandalkan si bebek hiper aktif, sudah waktunya Satria F150 tidak dibiarkan bertarung sendirian merebut hati konsumen.

Dari analisis yang saya baca disini, market roda dua di Indonesia masih akan tumbuh hingga tahun 2017, setelahnya market diperkirakan mulai jenuh. Jenuh, berarti komposisi share antar pemain di dalam industri tersebut tidak akan berubah signifikan. Kecuali ada langkah strategis luar biasa seperti merger atau akuisisi misalnya. Namun hal ini most likely won't happen laah. Di market yang jenuh, meningkatkan margin per product akan menjadi fokus perhatian, tidak lagi sekedar volume penjualan. 

Mei 2008, adalah momen dimana Kawasaki menurut saya merevitalisasi strateginya. Menyadari tidak bisa bermain di mass market, karena share sudah dikuasai oleh duo Honda-Yamaha. Dibutuhkan resources dan waktu berlebih untuk dapat berada di level kompetisi yang sama dengan keduanya. Kawasaki harus membangun jaringan 3S yang sama luasnya, karena cakupan wilayah pelayanan adalah esensi dari bersaing di mass market. Dengan market share yang saat itu hanya 0.7%, opsi untuk head to head dengan Honda dan Yamaha adalah tidak logis, tidak relevan, dan tentunya tidak murah. Manuver paling pas bagi Suzuki dan Kawasaki adalah FOCUS!

Masih dari teori Generic Strategy eyang Michael Porter, strategi Focus bisa ditempuh dengan dua pendekatan

  1. Cost Focus, berarti mengedepankan efisiensi biaya dalam menyasar segmen market tertentu (niche).
  2. Differentiation Focus. Mengutamakan diferensiasi dalam menyasar penetrasi produk pada segmen market tertentu (niche)

Kedua strategi focus di atas sama-sama menyasar segmen/target niche market. Bedanya, pendekatan pertama mengejar efisiensi untuk memperbesar profit margin. Pendekatan kedua menawarkan value produk yang berbeda dan lebih menarik kepada segmen niche dibanding kompetitor, margin per produk bisa di set lebih besar karena tidak ada pembandingnya, malahan pioneer bisa membuat standar harga sendiri.

Strategi Focus paling relevan ditempuh oleh pabrikan selain Honda dan Yamaha, dengan berkonsentrasi pada market yang bukan segmennya Honda dan Yamaha. Peluncuran dua produk premium KLX 250 dan Kawasaki Ninja 250 dengan harga diatas Rp 40 juta oleh Kawasaki, sudah menggambarkan manuver differentiation yang ditempuhnya. Sejak saat itu Kawasaki adalah satu-satunya pabrikan yang terus menerus menghadirkan motor-motor berkubikasi di atas 250cc secara kontinyu, sebelum AHM melakukan langkah serupa dengan "Honda Big Bike" nya.

produk kawasakiLine up produk Kawasaki (sumber)

The Ocean is no more Blue

Geliat motor berkubikasi seperempat liter yang dirintis oleh Kawasaki Ninja 250, membuat Honda kala itu urun mencicipi segmen ini. Namun karena sekedar mencicipi, penjualan CBR 250 single headlamp yang dirilis tahun 2011 tidak mampu menahan laju Ninja 250R.

Strategi Kawasaki Yamaha Honda

Trio Repsol Honda di Peluncuran CBR 250R – 2011 (sumber)

Honda berusaha mengedukasi bahwa silinder tunggal tidak kalah dengan silinder ganda, mengedepankan argumen bahwa perbedaan performa silinder ganda pada motor seperempat liter tidaklah signifikan. Pada akhirnya persepsi konsumen tetap teguh, dua silinder akan selalu dipersepsikan superior dibanding satu silinder! sebabnya?

  • Konsumen Indonesia sudah terlalu lama disajikan spesifikasi mesin yang itu-itu saja. Sudah sejak motor bebek, konsumen menggunakan motor satu silinder
  • Dengan perbedaan satu silinder, selisih harga yang disajikan tidak cukup menarik bagi konsumen. Bisa dikatakan CBR 250 saat itu adalah overprice untuk konsumen yang ingin naik kelas ke motor 250cc
  • Profil konsumen kelas ini beda, sudah mulai ke arah hobiist. Jadi, menawarkan motor satu silinder akan selalu inferior di mata mereka. Lain halnya jika berbicara barang bekasnya, harga bekas motor 250cc satu silinder lumayan jatuh, cukup banyak memikat konsumen termasuk saya.hehe..
  • Suara mesin satu silinder tidak akan semerdu mesin dua silinder. Meski tidak ada hubungannya dengan performa, tapi faktor ini salah satu pertimbangan konsumen mengapa lebih menyukai motor bermesin minimal dua silinder.

Seakan masih bersikeras dengan pemilihan konfigurasi mesin satu silinder di kelas ini, di bulan Mei 2014 Honda kembali meluncurkan CBR 250R dual keen eyes satu silinder dengan harga saat itu Rp 48.9 juta. Bandingkan selisih harganya dengan Ninja 250FI dua silinder yang saat itu dihargai Rp 53 juta-an.

Kawasaki sendiri juga memiliki produk 250cc dengan silinder tunggal. Ninja RR Mono yang diproyeksikan sebagai pengganti Ninja 150R yang harus diskontinyu karena alasan emisi, saat itu dihargai Rp 42 juta. Hasil penjualan kedua motor 250cc satu silinder ini, tidak bisa dibilang bagus. Konsumen enggan mengeluarkan uang lebih dari Rp 40 juta untuk motor satu silinder! Pertimbangannya seperti di atas tadi.

Strategi Kawasaki Yamaha Honda

Kawasaki Ninja 250 RR Mono (Rp 44.9 Juta) Vs CBR 250R (Rp 47.8 Juta). Informasi harga dari website resmi

Pabrikan ketiga yang turut meramaikan kelas niche 250 cc adalah Yamaha dengan R25, yang diluncurkan per Maret 2015 lalu. Diawal debutnya, R25 mampu terjual 1.328 unit pada bulan Juli 2015 dan 2.202 unit pada bulan Agustus 2015. Di bulan September 2015 R25 hanya mampu terjual 418 unit, kontras sekali dengan performa ekspornya. Apa yang salah? Yamaha bisa dibilang memiliki segalanya untuk mengalahkan dominasi penjualan Kawasaki Ninja 250. 

Delapan tahun market 250cc

Yamaha R25

Product, Yamaha tidak seperti Honda yang bersikeras dengan satu silinder. Yamaha R25 mengusung mesin dua silinder segaris, sama seperti Ninja 250R. Karakter mesin dan ergonominya pun didesain mengusung konsep "a superbike  you can ride everyday"

  • Power Yamaha R25 terbesar di kelasnya dengan 36 PS (12,000 RPM) sedangkan Ninja 250 hanya 32 PS (11,000 RPM)
  • Front fork Yamaha R25 juga terbesar dengan 41 mm, Ninja 250 hanya 37 mm
  • Fitur speedometer Yamaha R25 juga dilengkapi fitur shift timing light, sedangkan Ninja 250 tidak.

Price, Yamaha R25 diposisikan dengan harga di bawah Kawasaki Ninja 250. Kawasaki menjual motor dua silindernya tersebut di harga Rp 58.4 juta, sedangkan Yamaha 'hanya' di Rp 53 juta.

Place, Yamaha memiliki jaringan dealership yang jauh lebih luas dibandingkan Kawasaki. Di Jakarta saja, Kawasaki hanya memiliki 15 dealer ditambah beberapa dealer di kota satelit seperti Depok, Cibubur, Cikarang, Tanggerang. Sedangkan Yamaha, di Jakarta Pusat saja tercatat sudah 20 dealer, belum ditambah jaringan di kota-kota satelit sekitar Jakarta.

Promotion, tak terhitung berapa milyar Rupiah yang telah dikucurkan Yamaha Indonesia untuk mensponsori tim balap Yamaha motoGP. Melalui tagline korporasi nya "Yamaha Semakin di Depan" yang diperkenalkan sejak 2010 di paddock motoGP, Yamaha mencoba untuk membangun ikatan emosi antara konsumen di Indonesia dengan tim balap Yamaha motoGP. 

Secara konsep marketing mix di atas, Yamaha unggul di semua elemen. Kawasaki secara global hanya berpartisipasi di kompetisi World Superbike, terakhir berpartisipasi di motoGP adalah tahun 2008 lalu. Pihak KMI juga tidak melakukan sponsorhip terhadap tim Superbike, namun Kawasaki di Indonesia sepertinya diperkenankan untuk menggunakan livery tim Superbike sebagai gimmick produk mereka. Sepertinya Kawasaki memiliki kebijakan promo yang lebih global untuk seluruh subsidiary-nya.

Jika dari komponen Price, Place dan Promotion Yamaha sudah valid keunggulannya maka satu-satunya komponen yang perlu dievaluasi lagi adalah Product. Apakah produknya bermasalah? tidak! Yamaha Indonesia justru lebih banyak mengekspor Yamaha R3 ke mancanegara. Bahkan basis produksi R25 dan R3 Yamaha ada di Indonesia. Bisa jadi permasalahannya adalah di elemen "image" dan "desain". Faktor intangible yang cukup berpengaruh di Indonesia.

Game of Throne

Di kelas sport 250cc, Kawasaki masih sulit dikalahkan hingga saat. Terlepas belum mampunya Yamaha dan Honda menggeser dominasi Kawasaki Ninja 250, KMI perlu waspada bahwa kedua pabrikan tersebut memiliki resources yang lebih besar dari mereka. Keuntungan volume penjualan yang diperoleh keduanya dari market skutik dan sport 150cc merupakan modal yang cukup untuk me-revitalisasi produk mereka. Jika Yamaha Indonesia masih melipur lara dengan volume ekspor R25 yang cukup kencang, Honda sudah ramai dibicarakan sedang mempersiapkan rombakan total dari CBR 250R nya. 

Kemunculan All New Honda CBR 250RR sepertinya tidak akan terlalu lama lagi, mengingat ubahan revolusioner sudah dilakukan pada CBR 150R yang umurnya belum juga genap dua tahun dari sejak facelift dual keen eyes. Dari desain terbaru CBR 150R tersebut, akhirnya  selera konsumen Indonesia diakomodir juga. Selera garis tegas dan tajam sudah menjadi preference konsumen disini, jadi buat apa sebetulnya pabrikan bersusah payah menawarkan konsep desain yang lain?

delapan tahun market 250cc

Kawasaki Ninja 250 Fi (kiri) VS Honda CBR 250RR concept (kanan –sumber)

Dibandingkan dengan CBR generasi sebelumnya, versi konsep yang diperlihatkan sepertinya akan mendapat penerimaan yang lebih baik dari konsumen di tanah air. Desain CBR 250RR jauh berbeda dengan Yamaha R25 yang masih relatif santun. Kawasaki sudah selayaknya waspada dan berbenah diri mengingat Honda akan menang dari sisi Place, Promotion, dan mungkin juga Product mengingat dari bocoran yang terdengar CBR 250RR akan dijejali berbagai fitur yang saat ini belum dimiliki Ninja 250. Dari sisi Price mungkin Ninja bisa unggul, namun bisa saja harga CBR 250RR hanya sedikit lebih tinggi dari Ninja 250.

Dengan strategi Focus Differentiation, sebaiknya Kawasaki semakin fokus membawa semangat tersebut menjadi experience yang semakin dirasakan oleh konsumen. Mulai dari exeperience ketika konsumen melakukan servis rutin, ketersediaan suku cadang, dan layanan value added lainnya. Untuk sebuah dealer yang hanya menjual motor-motor dengan harga paling rendah Rp 28 juta-an (seri KLX 150), selayaknya Kawasaki memiliki standar dealer yang jauh lebih representatif. Mulai dari lokasi, ruang tunggu, sistem check-in untuk pendaftaran services, pelayanan suku cadang, area tes, hari dan jam pelayanan yang lebih optimal terutama di weekend.

Jika Honda dengan skala resources yang dimilikinya fokus di kelas 250cc ini, sepertinya akan lebih mudah bagi CBR 250RR untuk mengganggu posisi Ninja 250 dibanding Yamaha R25. Dengan catatan, versi produksi Honda CBR 250RR tidak jauh berbeda dengan versi konsepnya yang diperlihatkan pada ajang Tokyo Motor Show 2015 lalu.

Kita tunggu saja, kapan Marc Marquez dan Dani Pedrosa akan berkunjung ke Sentul untuk meluncurkan CBR 250RR ini. Siapa yang tak ingin memiliki motor dengan ikatan emosional ala tim motoGP?

Terimakasih Kawasaki yang telah membuka kotak pandora,pembuka jalan market 250cc

Semoga bermanfaat

ciao!

Related:

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here