9 Pembalap dengan Kontrak Berakhir di 2016

0
68
views

Melanjutkan postingan sebelumnya mengenai silly season 2016 yang di awali oleh berita kepindahanan Jorge Lorenzo ke Ducati untuk musim kompetisi 2017, akan kemana kira-kira Dovizioso dan Iannone jika tidak di Ducati? Siapa yang akan menemani Valentino Rossi di Yamaha tahun depan? Lalu siapa rider lain yang akan turut meramaikan silly season kali ini?

Selain Dovi dan Iannone, banyak sekali kemungkinan yang bersliweran saat ini, karena cukup banyak pembalap yang kontrak nya habis di tahun ini atau memiliki opsi untuk pindah ke tim lain di tahun depan, setidaknya ada 9 pembalap yang berhasil saya catat. Mari kita ulas kemungkinan-kemungkinannya.

  • Scott Redding, kontrak 1 tahun sampai dengan 2016 di Ducati Pramac

  • Bradley Smith – Pol Espargaro, sepertinya di tahun depan keduanya harus meninggalkan tim junior Yamaha, Yamaha Tech-3 karena performa keduanya dirasa biasa-biasa saja bagi Yamaha. Mengutip pernyataan Lin Jarvis "..akankah kami mempertahankan Bradley atau Pol untuk 2017 bersama Tech 3? Sejujurnya mungkin tidak. Mereka boleh saja pindah ke tim lain, atau jika mereka mampu mencatatkan hasil yang luar biasa maka ceritanya akan berbeda. Mereka bisa tetap bersama Tech 3 atau naik kelas ke tim Yamaha pabrikan". Performa yang luar biasa, menjadi syarat bagi kelanjutan kedua rider Tech 3 ini jika ingin tetap bersama Yamaha

  • Carl Crutchlow, kontraknya bersama LCR Honda berdurasi 1 tahun (2016) dengan opsi perpanjangan di tahun 2017. Kakak Crutchlow ini sepertinya agak tidak jelas karirnya, setelah sempat mencuri perhatian bersama Yamaha Tech-3 di tahun 2013 dengan dua kali mencuri pole position dan empat kali finish di podium kini seakan meredup. Padahal sebelumnya sempat menjanjikan, melihat Crutchlow mampu ikut mengganggu 4 pembalap terdepan (JL, VR, MM, DP). Mungkin dua kesalahan dalam keputusan berkarirnya adalah bergabung dengan Ducati di tahun 2014 karena orientasi fasilitas tim pabrikan, dan kurang sabar bersama Ducati minimal menyelesaikan kontraknya. Dilematis juga, karena siapa yang menyangka Ducati ternyata bisa membangun motor yang lebih rider friendly di tahun 2015

  • Marc Marquez, kontraknya berakhir di akhir musim 2016 ini namun mengingat performanya yang stabil dan selalu tampil barisan depan besar kemungkinan tetap akan bertahan di Repsol Honda setidaknya sampai dua musim kedepan (2018). Marc Marquez juga tercatat sebagai salah satu rider dengan gaji terbesar, $10 juta/tahun sama dengan Valentino Rossi. 

  • Danny Pedrosa, kontraknya berakhir di akhir musim 2016 ini. Terlepas dari performanya yang bisa dikatakan flat atau malah naik turun, ada kemungkinan kita masih akan melihat Pedrosa mengenakan wearpack Repsol Honda untuk satu tahun lagi

  • Maverick Vinales, ini dia rider paling potensial dan ramai di bicarakan sebagai tandem Valentino Rossi di musim 2017. Usia masih sangat muda (21 tahun), rookie yang baru menjalani tahun keduanya, performa yang stabil di barisan depan, mampu menunjukkan kemampuannya membawa motor Suzuki yang baru comeback nyaris podium di GP Argentina kemarin (jika tidak self crashed), kontrak dengan Suzuki berakhir di 2016, kesemua itu cukup menjadikannya sebagai rider yang akan meramaikan silly season tahun ini.

The Silly Game

Scott Redding,

Pembalap yang sangat frustasi dengan karir dan masa depannya di kompetisi motogp. Dua musim nya di kelas premier moto gp disimpulkannya dengan sebuah frase "demotivasi" hehe. Setelah mengakhiri musim moto 2 nya dengan peringkat 3 klasemen pembalap, di tahun perdana nya di kelas moto gp (2013) ia mengakhirinya dengan peringkat 12 klasemen bersama tim Honda Gresini menggunakan motor Honda kelas Open Spec

"Finish di posisi 12 dan 13, menurut saya bukanlah sebuah pencapaian, dan hal tersebut memberi efek demoralisasi bagi saya, mengetahui bahwa saya tidak akan pernah bisa menang"

Tidak ada perubahan di tahun kedua, bagi saya motor nya tidak berhasil, saya kehilangan kepercayaan diri

Kami mencoba segalanya, dan saya telah kehilangan kepercayaan pada diri saya

Saya pikir, saya telah kehilangan sentuhan saya dalam balapan, seharusnya saya tidak berlomba di MotoGP"

Bradley Smith, 

Bradley Smith KTM

Bradley Smith – KTM (ilustrasi, sumber)

Seperti tidak ingin berharap pada tawaran dari Yamaha Tech-3 apakah akan mempertahankannya atau tidak, untuk musim 2017 Smith sudah mengamankan seat nya sebagai pembalap pabrikan KTM untuk dua musim kompetisi kedepan, sampai dengan akhir 2018. Dengan pengalamannya di tim junior Yamaha tentunya ia memiliki posisi tawar yang cukup baik ketika bernegosiasi dengan KTM. Sekali lagi, prestise dan fasilitas dari tim pabrikan akan tetap silau di mata rider dibandingkan tim satelit.

Pol Espargaro,

Seakan kontradiktif dengan kutipan Lin Jarvis di atas, Herve Poncharal selaku bos tim Tech-3 Yamaha menyiratkan keinginannya untuk memperpanjang kontrak Pol Espargaro untuk musim 2017 mendatang. Entah, apakah keputusan dini yang diambil Bradley Smith untuk hengkang ke KTM musim depan membuat Tech-3 berkeinginan untuk memiliki satu rider berpengalaman untuk tetap bersama mereka musim depan. Rumor nya Pons Racing juga berkeinginan kembali ke moto gp dan berniat menggaet Pol Espargaro sebagai rider utama mereka.

Carl Crutchlow, 

Memiliki opsi untuk extend di 2017, namun belum ada kabar yang ramai membicarakan kakak satu ini, hehehe. Performa nya musim ini sampai dengan seri ke empat Jerez bisa dibilang biasa-biasa saja. Sekali lagi, tidak bosan-bosannya saya heran, entah kenapa kakak Carl jadi meredup sekarang… 

Marc Marquez, 

95% akan tetap bersama Repsol Honda. Pilhan bagi Marc untuk pindah ke tim lain juga relatif terbatas, mengingat pembalap seperti Marc hanya akan memilih tim dengan peluang menghantarkannya sebagai juara dunia. Pilihan yang ada hanyalah Yamaha Factory, dan jika ia memang berkehendak untuk bergabung bersama Yamaha tentunya akan sangat masuk akal ia akan memilih ketika Valentino Rossi sudah pensiun atau tidak di Yamaha Factory lagi. Karena Yamaha memiliki kebijakan memperlakukan kedua rider nya secara setara seperti pada zamannya JL-VR saat ini, sepertinya Marc lebih senang diperlakukan sebagai pembalap utama. Terlebih lagi hubungan antara Valentino Rossi dan Marc Marquez dalam titik terendah setelah Sepang clash di tahun 2015 lalu.

Dani Pedrosa,

70% kemungkinannya akan tetap di Repsol Honda untuk satu musim lagi. Honda dan Yamaha tergolong tim yang jarang berganti-ganti kombinasi pembalapnya. Mengutip pernyataan dari VP HRC Shuhei Nakamoto “..bagi saya kombinasi Marc dan Dani di musim 2016 ini merupakan yang terbaik. Bersamaan dengan habisnya kontrak mereka tahun ini, maka kamu akan membicarakan mengenai perpanjangan". Khusus Dani, bisa jadi opsi yang ditawarkan HRC kepadanya merupakan kontrak terakhirnya bersama Repsol Honda.

Andrea Iannone,

Dahulu ketika Suzuki berencana comeback setelah istirahat dua tahun semenjak 2012, Iannone sudah pernah ditawari oleh Suzuki untuk bergabung dengan skuad tersebut. Dengan berakhirnya kontrak Maverick Vinales di tahun 2016 ini, sebagai langkah antisipasi Suzuki telah melayangkan tawaran kepadanya. Bagi Iannone, tawaran tersebut merupakan plan B, mengingat kini hanya tersisa satu seat di Ducati. Insiden di Argentina merupakan DNF untuk ke empat kalinya secara berturut-turut baginya, sejak Malaysia – Valencia 2015 dilanjutkan seri Qatar dan Argentina 2016. Insiden dan catatan DNF nya tersebut memberikan handicap point bagi tingkat kematangan dan konsistensi yang sebetulnya mampu ditunjukkan pada musim lalu. Bagi Iannone sendiri, ia akan sangat sediiih jika harus meninggalkan Ducati karena yang terbaik baginya kedepan adalah tetap bersama Ducati, bukan mencari petualangan baru di Suzuki yang meskipun mulai menunjukkan kemajuan namun secara dukungan finansial tetap lebih nyaman bersama Ducati.

Andrea Dovizioso,

Prioritasnya adalah untuk tetap di Ducati, tapi sebagai Plan B ia bisa saja melihat KTM mengikuti langkah yang dilakukan oleh Bradley Smith. Di satu sisi KTM juga membutuhkan pembalap yang berpengalaman, Dovi bisa menjadi kandidat yang kuat mengingat apa yang telah ia kontribusikan dalam pengembangan Ducati Desmosedici dua tahun belakangan ini. Media dan fans juga sepertinya lebih menjagokan Dovi untuk tetap bersama Ducati menemani Jorge Lorenzo di tahun 2017. Apalagi melihat aksi nya mendorong motor sampai garis finish meskipun habis di hantam oleh Iannone menunjukkan komitmen nya sebagai pembalap professional

Maverick Vinales,

Setelah Jorge Lorenzo, rider yang menjadi rebutan bagi tim di bursa pembalap moto gp adalah Maveric Vinales. Pembalap termuda di grid, dengan talenta yang sudah terbukti mampu bersaing dengan rider terdepan. Hanya dalam dua musim pertama nya di moto gp telah mampu menjadikan seorang Lin Jarvis, bos tim Yamaha Factory mengungkapkan ketertarikannya.

"Jelas bahwa Maverick telah membuktikan talentanya sebagai salah satu bakar terbaik di motoGP, ia memiliki kesempatan yang sangat terbuka untuk menjadi juara dunia di masa depan. Ia adalah pembalap yang menarik bagi saya"

Ditanya mengenai status negosiasi dengan Vinales, Lin Jarvis menjawab bahwa Yamaha telah menyampaikan ketertarikannya dan saat ini diskusi antar keduanya masih berlangsung.

Tugas berat bagi bos tim Suzuki Ecstar, Davide Brivio untuk tetap dapat membujuk the young gun ini untuk tetap bersama Suzuki setidaknya selama dua musim ke depan. Namun sebagai plan B jika rencana utama mempertahankan Vinales gagal, rumor nya Davide Brivio saat ini tengah melirik Johann Zarco, juara kelas moto 2 tahun 2015 lalu. Bagi tim seperti Suzuki yang masih dalam proses menuju level kompetitif yang sama dengan pabrikan seperti Yamaha dan Honda, kombinasi paling pas adalah memiliki rider dengan latar belakang yang berbeda, satu rider berpengalaman dan satu rider muda yang haus dan agresif. 

Semoga bermanfaat,

ciao!

Related:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here